Laporan praktikum teknplogi sediaan cair ( suspensi antipiretik)

LABOLATORIUM TEKNOLOGI FARMASI
STIKES MUHAMMADIYAH MANADO

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR
FORMULASI : SUSPENSI ANTIPIRETIK




DISUSUN OLEH :
NAMA   NIM
                    FAUZIAH IRIANTO             1603027
                                NUNUNG A. WIDIASTUTI              1603069

DOSEN PENANGGUNG JAWAB :
FEBRIANIKA  AYU KUSUMANINGTYAS, S.Farm

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI
PROGRAM STUDI DIII FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MUHAMMADIYAH
MANADO
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beberapa bentuk sediaan obat yang umumnya dipakai dalam pembuatan obat, setiap bentuk sediaaan memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing sesuai dengan kebutuhan dan untuk apa obat tersebut dipakai. Salah satu bentuk sediaan dari obat yang sering dijumpai dan sering digunakan adalah suspensi. (Audina M, dkk., 2015)
Suspensi adalah system heterogen yang terdiri dari dua fase. Fase kontinyu atau eksternal biasanya cairan atau semi padat dan fase disperse atau internal terdiri dari partikulat atau serbuk padat terbagi halus. (Fatmawaty A, dkk., 2015).
Beberapa suspensi diperdagangan tersedia dalam bentuk siap pakai, telah disebarkan  dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan bahan tambahan farmasetik lainnya. (Audina M, dkk., 2015)
Selain itu pembuatan suspensi ini didasarkan pada pasien yang sukar menerima tablet atau kapsul, terutama bagi anak-anak dan lansia, dapat menutupi rasa obat yang tidak enak atau pahit yang sering kita jumpai pada bentuk sediaan tablet, dan obat dalam bentuk sediaan suspensi lebih mudah diabsorpsi daripada tablet/kapsul dikarenakan luas permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat. Oleh karena itu dibuatlah sediaan suspensi. Pembuatan suspensi ini pula didasarkan pada pengembangan sediaaan cair yang lebih banyak diminati oleh masyarakat luas.(Audina M, dkk., 2015)
Tetapi dalam pembuatan suspensi juga memerlukan ketelitian dalam proses pembuatan sehingga kestabilannya dapat terjaga. (Audina M, dkk., 2015)
Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. (Audina M, dkk., 2015)
Penggunaan dalam bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air. (Audina M, dkk., 2015)
Kekurangan suspensi sebagai bentuk sediaan adalah pada saat penyimpanan, memungkinkan terjadinya perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi, deflokulasi) terutama jika terjadi fluktuasi atau perubahan temperatur. (Audina M, dkk., 2015)
Sasaran utama didalam merancang sediaan berbentuk suspensi adalah untuk memperlambat kecepatan sedimentasi dan mengupayakan agar partikel yang telah tersedimentasi dapat disuspensi dengan baik. (Audina M, dkk., 2015)
Jadi, alasan pembuatan suspensi yaitu untuk membuat sediaan obat dalam bentuk cair dengan menggunakan zat aktif yang tidak dapat larut dalam air tetapi hanya terdispersi secara merata. Dengan kata lain, bahan-bahan obat yang tidak dapat larut dapat dibuat dalam bentuk suspensi.  (Audina M, dkk., 2015)
Dengan demikian sangatlah penting bagi kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui dan mempelajari pembuatan sediaan dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan suspensi yang ideal ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakan pada pelayanan kefarmasian dalam kehidupan masyarakat. (Audina M, dkk., 2015)

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pembuatan suspensi ini diantaranya adalah :
Membuat suspensi menggunakan suspending agenttragakan
Membuat sediaan suspensi yang stabil dalam jangka waktu yang lama.
Mengevaluasi sediaan suspense

Prinsip Percobaan

Pembuatan suspensi dengan menggunakan suspending agent dengan membuat sediaan yang stabil dalam jangka waktu yang lama serta mengevaluasi sediaan suspensi yang didasarkan pada penampakan fisik dari suspensi tersebut misalnya perubahan volume, perubahan warna dan sistem pembentukan suspensi.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Umum
Suspensi adalah sediaaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila dikocok perlahan endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang. (Aud ina M, dkk., 2015)
Menurut FI  Edisi III, suspensi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut , terdispersi dalam cairan pembawa.
MenurutFI Edisi IV, suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pebawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, dan ditujukan untuk penggunaan oral. Beberapa suspense yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini.


Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi adalah :
Ukuran partikel.
Sedikit banyaknya bergerak partikel (viskositas)
Tolak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik
Kadar partikel terdispersi (Audina M, dkk., 2015)
Ciri-ciri sediaan suspensi adalah :
Terbentuk dua fase yang heterogen
Berwarna keruh
Mempunyai diameter partikel > 100 nm
Dapat disaring dengan kertas saring biasa
Akan memisah jika didiamkan (Audina M, dkk., 2015)



Macam-macam suspensi :
Suspensi berdasarkan kegunaanya :
Suspensi oral.
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat  yang terdispersi dalam cairan pembawa dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditunjukan untuk penggunaan oral.
Suspensi topical
Suspensi topical adalah sediaan cair yang mengandung partikael-partikel padat yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.
Suspensi tetes telinga.
Yaitu sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada bagian telinga luar.
Suspensi optalmik
Yaitu sediaan cair yang steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. (Audina M, dkk., 2015)
Suspensi berdasarkan istilah :
Susu
Yaitu suspensi untuk pembawa yang mengandung air yang ditujukan untuk penggunaan oral. Contohnya : susu magnesia
Magma
Yaitu suspensi zat padat anorganik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragredasi kuat yang menghasilkan konsistansi seperti jell dan sifat relogi tiksotropik.
Lotio
Untuk golongan suspensi tropical dan emulsi untuk pemakaian pada kulit. (Audina M, dkk., 2015)

Suspensi berdasarkan sifatnya
Suspensi deflokulasi
Ikatan antar partikel terdispersi kuat
Partikel dispersi mudah mengendap
Partikel dispersi mudah terdispersi kembali
Partikel dispersi tidak membentuk cacking yang keras

Suspensi flokulasi
Ikatan antar partikel terdispersi lemah
Partikel dispersi mengendap secara perlahan
Partikel dispersi susah terdispersi kembali
Partikel dispersi membentuk cacking yang keras (Audina M, dkk., 2015)

Syarat-syarat suspensi adalah sebagai berikut :
Menurut FI edisi III adalah :
Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap
Jika dikocok harus segera terdispersi kembali
Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspensi
Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar mudah dikocok atau sedia dituang
Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensi tetap agak konstan untuk jangka penyimpanan yang lama
Menurut FI edisi IV adalah :
Suspensi tidak boleh di injeksikan secara intravena dan intratekal
Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan untuk cara tertentu harus mengandung anti mikroba
Suspensi harus dikocok sebalum digunakan.

Cara pembuatan suspensi
Suspensi dapat dibuat dengan cara :
Metode dispersi
Serbuk yang terbagi halus didispersikan kedalam cairan pembawa. Umumnya sebagai cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting adalah pertikel-pertikel harus terdispersi betul dalam fase cair. Mendispersikan serbuk yang tidak larut dalam air kadang-kadang sukar, hal ini disebabkan karena adanya udara, lemak yang terkontaminasi pada permukaan serbuk. Serbuk dengan sudut kontak 900C disebut hidrofob. Contohnya sulfur, magnesium stearat, dan magnesium karbonat. Untuk menurunkan tegangan antar muka, antara partikel padat dan cairan pembawa digunakan zat pembasah dengan nilai HCB (hidrofil lipofil balance) atau keseimbangan hidrofil lipofil. Udara yang dipindahkan dan partikel akan terbasahi dapat pula menggunakan gliserin, larutan Gom, propilenglikol untuk mendispersi parikel padat. Biasa juga digunakan Gom (pengental). (Audina M, dkk., 2015)
Metode presipitasi
Metode ini terbagi atas 3 yaitu :
Metode presipitasi dengan bahan organik
Dilakukan dengan cara zat yang tak larut dengan air, dilarutkan dulu dengan pelarut organic yang dapat dicampur air. Pelarut organic yang digunakan adalah etanol, methanol, propilenglikol, dan gliserin. Yang perlu diperhatikan dari metode ini adalah control ukuran partikel yang terjadi bentuk polimorfi atau hidrat dari Kristal.
Metode presipitasi dengan perubahan PH dari media
Dipakai untuk obat yang kelarutannya tergantung pada PH.
Metode presipitasi dengan dekomposisi rangkap/penguraian
Dimana stabilitas fisik yang optimal dan bentuk rupanya yang baik bila suspensi diformulasikan dengan partikel flokulasi dalam pembawa berstruktur atau pensuspensi tipe koloid hidrofil. Bila serbuk telah dibasahi dan didispersikan diusahakan untuk membentuk flokulasi terkontrol agar tidak terjadi sediaan yang kompak yang sulit didispersi kembali. Untuk membentuk flokulasi digunakan elektrolit, surfaktan, dan polimer. (Audina M, dkk., 2015)

Bentuk suspensi yang diinginkan
Partikel-partikel harus mengendap secara perlahan
Partikel-partikel yang mengendap harus mudah didispersikan kembali
Suatu suspensi yang terflokulasi lebih diinginkan daripada suspensi yang terdeflokulasi.
Suatu suspensi tidak boleh terlalu kental untuk mengurangi kecepatan sedimentasi. (Audina M, dkk., 2015)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam suspensi adalah :
Kecepatan sedimentasi (hokum stokes)
Untuk sediaan farmasi, tidak mutlak dipakai untuk sediaan farmasi biasanya dimana bentuk suspensorik tidak teratur, tetapi dapat dipakai sebagai pegangan supaya suspensi stabil sehingga tidak cepat mengendap. Maksudnya akan terbentuk cacking dan homogenitas kurang.  (Audina M, dkk., 2015)


Pembahasan serbuk
Pembasahan adalah fenomena terjadinya kontak antara medium pendispersi dan medium terdispersi dimana permukaan padat udara digantikan oleh padat cair. Untuk menurunkan tegangan permukaan digunakan wetting agent atau surfaktan (zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan) misalnya span dan tween. (Audina M, dkk., 2015)
Floatasi
Floatasi atau trafung disebabkan oleh :
Perbedaan densitas
Partikel padat hanya terbasahi dan tetap pada permukaan
Adanya absorbsi gas pada permukaan zat padat. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan humektan. (Audina M, dkk., 2015)
Pertumbuhan Kristal
Larutan air suatu suspensi sebenarnya merupakan larutan jenuh, bila terjadi perubahan suhu akan terjadi pertumbuhan kristal ini dapat dicegah dan penambahan surfaktan. (Audina M, dkk., 2015)
Pengaruh gula
Penambahan larutan gula dalam suspensi akan mengakibatkan fiskositas suspensi naik.
Konsentrasi gula yang besar akan menyebabkan akan terbentuknya kristalisasi dengan cepat Gula cair 25% mudah ditumbuhi bakteri hingga diperlukan pengawet v
Hati-hati jika ada alkohol dalam suspense
Pemilihan metode dispersi, depokulasi, dan prokulasi. (Audina M, dkk., 2015)


Keuntungan dan Kerugian Sediaan Suspensi (Academia.edu: Viany Herlina, 2012)
Keuntungan sediaan suspensi, antara lain :
Bisa digunakan untuk partikel / bahan obat yang tidak larut
Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan dapat dibuat dalam sediaan suspensi.
Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
Stabil secara kimia karena suspensi tidak mengalami perubahan secara kimia karena bahan aktifnya tidak larut sehingga tidak berinteraksi dengan pelarutnya.
Kerugian sediaan suspensi
Tidak praktis dibawah bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
Keseragaman dan keakuratan dosis tidak dapat dibandingkan dengan sediaan tablet
Efektifitas formulasi sulit dicapai karena dalam pembuatannya lebih sulit dibandngkan tablet.
Terjadinya sedimentasi zat atau bahan obat yang tidak  terlarut.


Uraian Bahan
Zat Aktif
Ibuprofen (Farmakope Indonesia edisi III, hal 449)
Nama Resmi : IBUPROFENUM
Nama lain : IBUPROFEN
Rumus Struktur :
CH3CHCH2   CHOOH
CH3
Rumus Kimia : C13H18O2
Bobot Molekul : 206,28
Pemerian : Serbuk  hablur, putih hingga hampir putih berbau khas lemah
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol,
dalam methanol, dalam aseton dan dalam klorofoam, sukar larut
dalam etil asetat.


Zat tambahan
Oleum citri (Farmakope Indonesia edisi III, hal 455)
Nama resmi : oleum citri
Nama lain : minyak jeruk
Pemerian : cairan kuning pucat atau cairan kuning kehijauan, bau khas,  rasa pedas dan agak pahit
Kelarutan : larut dalam 12 bagian etanol (90 %) P, berupa essensi dapat bercampur dengan etanol mutlak P.
Khasiat : sebagai zat pengaroma untuk menurunkan bau dan zat       aktif obat
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya, ditempat
Sejuk

Na-CMC (Farmakope Indonesia edisi IV, Hal 401)
Nama Resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Pemerian : serbuk atau butiran putih atau kuning gading, tidak
berbau atau hampir tidak berbau, higroskopik
Kelarutan : mudah mendispersi dalam air, membentuk suspense
koloidal, tidak larut dalam eter

Sirup Simpleks (farmakope Inonesia edisi III, Hal 576)
Nama resmi : SIRUPUS SIMPLEKS
Nama lain : Sirup gula
Pemerian : cairan jernih tidak berwarna

Aquadest (farmakope Inonesia edisi III, Hal 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Air Suling
Rumus Kimia : H2O
Bobot Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau tidak
mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalah wadah tertutup baik





Formulasi 1




















BAB III
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan adalah mortir, stamper, pipet tetes, batang pengaduk, spiritus, kaki tiga, botol 60ml, botol 100ml, beker glass, kertas perkamen, penjepit, sendok tanduk dan timbangan.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah Ibuprofen, Esens jeruk, Gula, Na CMC, Metil paraben dan Aqudest.
Prosedur Percobaan
Pembuatan Sediaan Suspensi
Disiapkan alat dan bahan, dikalibrasi botol 60 ml dan 100 ml. Ditimbang bahan sesuai perhitungan penimbangan. Na CMC ditaburkan sedikit demi sedikit ke dalam gelas kimia yang telah diisi air, sambil diaduk terus hingga homogen. Kemudian ditambahkan ibuprofen diaduk hingga homogen. Ditambahkan pengaroma dan perasa diaduk sampai homogen. Setelah itu dimasukkan kedalam wadah yang sudah dikalibrasi sebelumnya, cukupkan dengan aquadest sampai tanda kalibrasi dan dikocok hingga homogen. Beri etiket dan lebel lalu masukkan kedalam kemasan dengan brosur.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Percobaan
Evaluasi Sediaan suspensi
Organoleptis
Berdasarkan pengujian organoleptis, hasil yang didapat yaitu :
Warna : Putih keruh
Bau : Baunya khas
Rasa : Jeruk
Tampilan
Sediaan ini dimasukkan kedalam botol yang sudah dikalibrasi terlebih dahuludan diberi label disaat kesetimbangan warna dan penampilan sediaan terlihat sama tetaap yaitu tetap putih keruh, terjadi penggumpalan pada obat tersebut.
Pembahasan
Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Dalam pembuatan suspensi, kita selaku praktikan mengharapkan hasil dari suspensi yang kita buat itu adalah merupakan suspensi yang masuk dalam kategori suspensi ideal atau stabil. Suspensi yang ideal merupakan suspensi yang memiliki kriteria yakni, partikel yang terdispersi harus mempunyai ukuran yang sama dan tidak mengendap cepat dalam wadah, endapan yang terbentuk tidak boleh keras, dan harus terdispersi dengan cepat dengan sedikit pengocokan, harus mudah dituang, memiliki rasa enak dan tahan terhadap serangan mikroba, untuk obat luar harus mudah disebar dipermukaan kulit dan tidak cepat hilang ketika digunakan serta cepat mengering.
Dari praktikum pembuatan suspensi yang kami lakukan kemudian dilakukan evaluasi terhadap sediaan suspensi tersebut. Pengujian organoleptis menunjukkan bahwa warna suspense adalah putih kekuningan, bau yang dihasilkan adalah bau khas bahan pengaroma yang kami pakai yaitu esens jeruk, dan memiliki rasa yang manis karena penambahan pemanis yaitu sirup simpleks. Dari segi tampilan, sediaan dimasukkan dalam gelas ukur dan disaat kesetimbangan warna dan tampilan sedimen terlihat sama yaitu tetap putih keruh, tidak terjadi retakan dan terdapat kantong udara pada awalnya dan tidak ada sisa residu penuangan di gelas ukur.
Membuat disperse Cmc-Na dengan cara menabur Cmc-Na sedikit demisedikit kedalam pencampuran tersebut sambil di gerus kuat,Penggerusan kuat dimaksudkan agar tidak terjadi pemisahan selama penggerusanMaka akan diperoleh bentuk suspense yang  sempurna.
Kesalahan yang sering terjadi pada saat pembuatan suspensi harulslah menjadi acuan untuk kita sebagai praktikan agar pada pembuatan suspensi selanjutnya dapat dperoleh hasil yang maksimal. Karena dengan belajar dari kesalahan seperti inilah kita dapat menciptakan ataupun menghasilkan sediaan suspensi yang ideal dan stabil.
Ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan literature. Hal ini disebabkan karena beberapa fakor diantarnya :
Lebih kurang meneliti pada saat bekerja sehingga sediaan yang di buat tidak sesuai dengan hasil yang di inginkan
Kurangnya kehomogenitas pada saat penggerusan sediaan, suspensi
Penimbangan bahan untuk membuat sediaan suspensi sangatlah lama Karena banyak kelompok yang melakukan penimbangan bahan juga seperti kami jadi kami melakukan penimbangan tersebut harus secara antrian
kelompok kami menggunakan pewarna serta mencocokkan dengan essence yang kami gunakan yaitu essence orange yang mempunyai warna orange akan tetapi essence yang kami gunakan hanya 2 tetes sehingga sediaan yang kami buat tidak berwarna







BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Pada praktikum ini dapat kita simpulkan bahwa sediaan yang dibuat yaitu sediaan suspensi, dimana suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi pada fase cair. Formula suspensi yang dibuat adalah Suspensi Antipiretik dengan zat aktif ibuprofen yang bersifat sebagai analgetik, antipiretik dan antiinflmasi yang lemah.
Selain itu pembuatan suspensi ini didasarkan pada pasien yang sukar menerima tablet atau kapsul, terutama bagi anak-anak dan lansia, dapat menutupi rasa obat yang tidak enak atau pahit yang sering kita jumpai pada bentuk sediaan tablet, dan obat dalam bentuk sediaan suspensi lebih mudah diabsorpsi daripada tablet/kapsul dikarenakan luas permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat

Saran

Diharapkan kepada semua mahasiswa/siswi untuk  lebih banyak belajar mengenai sifat, stabilitas, tipe suspensi maupun cara melarutkan dan penyimpananya. Pada saat pembuatan suspensi, praktikan harus mengetahui kelarutan dari bahan-bahan obat yang dikerjakan, Praktikan juga harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas suspensi, agar dapat menghasilkan suspensi yang baik.







DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh . 1997 . Ilmu Meracik Obat . Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press

Audina Mina, dkk., 2015. Laporan Praktikum Teknologi Formulasi Sediaan Liquid Dan Semisolida. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya

Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta : Dekpes RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi IV . Jakarta : Dekpes RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978 . Formularium Nasional Edisi 2 .Jakarta : Dekpes RI

Fatmawaty Aisyah, dkk., 2015. Teknologi Sediaan Farmasi. Deepublish, Yogyakarta











LAMPIRAN
Perhitungan bahan
Volume dilebihkan 10%  = 10/100*60ml = 6 +60 = 66
Ibuprofen 200 mg
Tatrazine × 66 ml = 0,0198 ml
Oleum citri × 66 ml = 0,198 ml
Sirup simpleks × 66 ml = 39,6 ml
Cma-Na × 66 ml = 1,98 m
Aquadest × 66 ml =  66 ml
=  66 ml – (200 + 0,0198 + 0,198 + 39,6 + 1,98 )
=  66 ml – 241,7 ml
= 175,7 ml

Perhitungan dosis

Ibuprofen = 200 mg / 5 ml sediaan 200-400 mg untuk
Anak umur 2 tahun
1 X pakai = ×400 mg = 57,14 / cth
Sehari pakai = × 1200 mg = 171,42
Untuk umur 4 tahun
1 × pakai = × 400 mg × 400 mg = 100 mg atau ½ cth
Sehari pakai  × 1200 mg = 300 mg


Untuk umur 6 tahun
1 × pakai = × 400 mg × 400 mg = 133,33
Sehari pakai =  × 1200 mg = 400 mg atau 2 cth

Dosis × umur  / kg BB × 1 cth
2 tahun
= 4,8
4 tahun
 = 6,5
6 tahun
 = 7,9

Komentar

  1. The Casino - Mapyro
    The Casino. 21 공주 출장샵 Highway 50, Kansas City, MO. Find the closest casino to Kansas City. This 창원 출장안마 casino is close to my neighborhood, with 경상남도 출장마사지 my family staying at around 양주 출장마사지 10 am 김해 출장안마

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Islam dalam masalah harta dan jabatan